Menakar Dampak Jurnalisme Investigatif

democracy-detectives-webJudul buku: Democracy’s Detectives    
Penulis   : James T Hamilton
Penerbit  : Harvard University Press, AS
Tebal     : x + 368 halaman
Cetakan   : Pertama, 2016

JURNALISME investigatif tentu butuh lebih dari sekadar kesiapan jurnalis untuk terjun ke lapangan, mengumpulkan data, mewawancarai sumber dan merangkai satu demi satu kejadian. Kerja-kerja dalam jurnalisme macam ini membutuhkan pula pendanaan yang lumayan besar. Perusahaan media yang mempekerjakan para jurnalis investigatif harus menyiapkan cukup dana agar tidak mengganggu kerja sang jurnalis. Setiap jurnalis investigatif harus fokus pada apa yang menjadi target penulisannya. Situasi ini jauh lebih sulit dari sekadar menuliskan peristiwa atau kejadian biasa saja. Wajar saja jika penulis buku ini kemudian meriset bagaimana kinerja jurnalis investigatif, dan ia menemukan fakta bahwa dampak pemberitaan investigatif memang besar bagi publik. Akan tetapi, perusahaan media juga butuh dana lumayan besar untuk peliputan investigatif dalam satu topik saja.

Buku ini merupakan hasil riset James Hamilton, guru besar ilmu jurnalisme dari Universitas Stanford. Ada dua donor di balik riset plus penulisan buku ini, Universitas Duke dan Universitas Stanford. Ditegaskan penulisnya, bahwa penelusuran terhadap kasus-kasus di dalam pemerintahan memang sulit, sebab seringkali para aktor pemerintah sendiri enggan terbuka menjelaskan kebijakan atau program yang digulirkannya untuk masyarakat. Apalagi dalam perkara pembiayaan, sangat sulit bagi jurnalis investigatif untuk menelusurinya. Selain dikejar tenggat waktu penulisan, penelusuran investigatif atas kasus-kasus dalam pemerintahan juga butuh kehati-hatian.

Ada tiga studi kasus yang dilakukan penulis buku ini, dimana ia mencoba untuk mengerjakan secara rinci serta menelusuri secermat mungkin tentang kerja-kerja investigatif. Pertama, ia memperkirakan biaya investigasi yang harus dikeluarkan oleh koran dan televisi lokal. Untuk itu, ia harus melihat ke dalam aspek perencanaan, serta anggaran yang dibuat oleh bagian pembiayaan. Merujuk kepada pengalaman panjang dalam membiayai investigasi, tentu sejumlah pengelola koran atau televisi lokal harus belajar sehemat mungkin. Kadang, pembiayaan ini berubah karena dampak dari hasil kerja investigasi sebelumnya. Kedua, penulis buku ini perlu melakukan prakiraan dampak dari penerbitan hasil investigasi itu yang dibaca masyarakat.

Dari hasil kalkulasi yang dilakukan, James menemukan bahwa setiap dolar yang diinvestasikan dalam kerja jurnalisme investigasi berujung pada sebuah cerita utuh terpublikasi, masyarakat memperoleh keuntungan 100 dolar. Keuntungan ini bukan cuma tertuju pada para pelanggan koran atau pemirsa televisi berbayar saja, melainkan bersifat umum. Berdasar temuan ini, penulis kemudian menegaskan bahwa jurnalisme investigasi memang membutuhkan anggaran yang besar, bisa lebih besar dari sekadar menggaji jurnalis biasa. Akan tetapi, dampak hasil peliputan investigatif ternyata sangat kongkrit pada masyarakat. Yang diuntungkan dalam hal ini bukan saja pemasang iklan atau produsen pemasang iklan, namun masyarakat secara luas juga ikut diuntungkan.

Pelajaran praktis dari buku yang ditulis ini tentu saja berupa dorongan kepada para pembaca agar bersikap kritis pada kebijakan pemerintah. Itu pasti. Selain juga, para pembaca, baik kalangan jurnalis maupun non-jurnalis, diharapkan terus mencermati liku-liku kebijakan pemerintah selain bisa juga menunjukkan rasa simpati jika kebijakan tersebut memang tepat sasaran. Dan yang terpenting juga adalah pemahaman terhadap aturan-aturan kebebasan informasi. Seringkali aparat pemerintah berdalih informasi dalam kebijakan tidak bisa dibagi ke publik karena kerahasiaan. Namun dalih ini bisa dipatahkan jika perusahaan media mengetahui seluk-beluk aturan yang berlaku. Dari penelusuran terhadap kerja jurnalis investigatif, penulis buku ini menemukan bahwa 40 persen tulisan investigatif terkait pada peninjauan kebijakan pemerintah.

(Rosdiansyah, peresensi adalah peneliti pada The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi/JPIP, Surabaya)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s